Kami sedang menunggu buku ketujuh kami tentang "Mbah Mutamakin"

Minggu, 12 Juli 2009

Menolong Anak Sakit Usus Buntu Tidak Jadi di Operasi

Bulan Mei 2008. Jam empat pagi bapakku ditelepon oleh kawannya di Jogja, kawannya itu bilang bahwa sekarang ia sedang di rumah sakit mengantar anaknya yang sakit tiba-tiba. Badannya panas dan mengalami kesakitan yang luar biasa. Di rumah sakit itu, anaknya si om tadi di periksa oleh dokter jaga, dan kemudian dimasukkan dalam unit gawat darurat. Hasil diagnosa dokter mengatakan bahwa anaknya itu mengalami peradangan di usus buntu. Satu-satunya solusi yang terbaik adalah dioperasi untuk pembuangan usus buntu itu.
Mendengar keterangan dokter, si om gemetar juga, kaget. Karena memang tidak terpikirkan sebelumnya. Isterinya di rumah mengurus dua anaknya, adiknya si pasien, yang masih kecil-kecil (4 & 2 th). Setelah menceriterakan keadaan seperti itu kepada bapak, bapak menyuruhku untuk mendeteksi. Dalam pendeteksian itu saya melihat dengan sangat jelas jelas ada peradangan di usus buntu anak tadi. Hanya saja, peradangannya belum sempat menyentuh saraf inti. Pada kondisi seperti itu, saya berpendapan bahwa tidak di buang tidak apa-apa. "Om..tidak perlu operasi...om cari resepnya segera...dan minumkan...insyaallah akan mereda sakitnya..dan sembuh".
Si Oom tadi akhirnya membawa pulang anaknya, dan mengobatinya sendiri. Ternyata...betul juga...setelah ramuan dari resep tadi diminumkan..anaknya terus tidur pulas. Jam sembilan pagi berangsur menurun panasnya..dan anak itu bisa bermain lagi dengan adik-adiknya. Perkembangannya terus saya pantau, baik dengan jarak jauh ataupun dekat...perkembangan hari per hari saya laporkan kepada si om...dan tante...pantangan-pantangan agar dihindari...alhamdulillah...setelah tiga minggu, penyakitnya dapat saya katakan sembuh seratus persen...alhamdulillah..hingga sekarang tidak pernah kumat lagi.
Subhanallah.

Menolong Orang Tidak Jadi Cuci Darah

Sekitar tiga bulan yang lalu, Maret 2009, datang seorang lelaki setengah baya dengan adiknya datang ke rumahku. Dengan wajah sedih dan kelihatan capek ia mengeluh kepadaku, menceriterakan keadaan isterinya yang sedang terkapar sakit di rumah sakit di kota Solo. Wajah kebingungan dan ketakutan begitu tampak jelas, ketika ia bilang bahwa menurut dokter, isterinya harus cuci darah sehubungan dengan sakit ginjal yang dideritanya. Jalan yang paling baik menurut dokter cuci darah.
Kondisi isterinya saat itu, perutnya membesar, nafasnya agak terasa sesak, dan kedua kakinya bengkak besar sekali, dari atas hingga ke bawah. Dia bilang, maaf, seperti kaki gajah. kakinya mengkilat.
Dari rumah, aku mendeteksi keadaan isterinya yang sedang sakit di rumah sakit. Saya lihat bahwa, betul ibu itu ada gangguan di ginjalnya seperti apa yang dikatakan dokter rumah sakit. Ada pembengkakan ginjal dan ada peradangan. Maka, wajar saja kalau dokter menyarankan untuk operasi atau cuci darah. Namun, setelah saya deteksi dan saya komunikasi dengan penyakitnya itu, penyakitnya bilang tidak perlu cuci darah. Tetapi dapat diatasi dengan ramuan tertentu, yang harus dikonsumsi secara rutin.
Setelah melakukan pendeteksian atas penyakit itu, saya cerita kepada suaminya bahwa kondisinya memang ada gangguan di ginjal, sebagaimana diceritakan oleh dokter. Tetapi tidak harus operasi karena dapat digantikan dengan resep tertentu. Tentu saja, untuk pengambilan keputusan itu tergantung pada pasiennya. "pak, berani nggak bapak untuk tidak cuci darah, tetapi menggantinya dengan resep saya?" tanya saya kepada bapak itu. Sejenak bapak itu berfikir. "berani mas...ada beberapa pertimbangan yang membuat saya berani. yang pertama, hasil deteksi anda ternyata sesuai dengan dokter. Kedua, kami juga tidak punya biaya untuk membiayai isteriku...(ia sambil terisak menangis)...sampai anakku saja tidak sekolah mas...kami ini hanya pedagang gorengan yang kecil, mas..saya mohon bantuan dan doanya mas...". jawab bapak itu. sayapun menyarankan agar resep dikonsumsi rutin.
(Anda, pembaca tentu pengin tahu resepnya...? resepnya hanyalah apa yang mudah ditemui di bumbu dapur, tanaman sekitar rumah. Nyaris tanpa biaya. Pengobatan yang murah, meriah, dan asyiknya...bisa bikin sendiri...)
Si bapak tadi akhirnya betul tidak mengijinkan cuci darah, tetapi menggantinya dengan resep tadi. Isterinya diminta pulang paksa dari rumah sakit. Obat dari rumah sakit tidak ditebusnya. Setelah mengkonsumsi resep itu, hingga dua minggu, ia merasa tidak merasakan sakit, dan kondisinya pulih, hanya saja masih ada keluhan di sesak nafas, dan sesekali terasa kembung di perutnya. uga bengkaknya belum berkurang. Bapak ini rajin konsultasi, dan saya juga menjadi rajin memantau.
Minggu ketiga, isteri dan anaknya diajak ke rumahku. Alhamdulillah....bengkaknya sudah hilang..menjadi kondisi kaki normal. Sesak nafasnya masih ada, namun rasa kembung sudah tidak ada lagi. Sebetulnya, dalam kurun dua minggu ke tiga minggu ini, ibu itu ragu dengan pengobatanku itu..sehingga ia ingin check up di rumah sakit yang lain. Di rumah sakit itu, ibu itu juga di suruh cuci darah. Dia cerita kepada saya, pas pada pertemuan pada minggu yang ketiga itu, dia ragu dengan jawaban rumah sakit. Karena, yang dia keluhkan sekarang hanya sesak nafas..kok tetap disuruh cuci darah. Selidik punya selidik..yang dianalisis adalah data dari rumah sakit lama, dan sebab keluarnya yang pulang paksa itu.
Alhamdulillah, setelah sebulann setengah..ibu itu sudah dalam kondisi yang normal, sembuh total.
Subhanalla walhamdulillah wa laa ilahailallah muhammaddarasulullah. laaa haula wa laa quwwata ila bilahil aliyyil adzim. Wallohu'alam bishshowab.

Menyembuhkan orang sakit Maag Kronis

Setahun lalu, datang suami isteri yang mempunyai anak satu berusia 10 tahun. Sang ibu ini dengan wajah pucat pasi duduk dengan sangat lemas di kursi tamuku. tak bertenaga, lemas betul. Aku sangat kasihan. Suaminya menceriterakan keluhannya isterinya itu. Ternyata sakit itu telah dialami selama sepuluh tahun, dimulai saat ngidam waktu hamil anaknya itu. Ia mengaku telah tiga kali keluar masuk rumah sakit. Berkali-kali ke pengobatan alternatif. Bermacam pula cerita yang disampaikan, terutama tentang cara pengobatan yang dilakukan orang-orang yang didatangi.
Ia pertama bertanya padaku, " mas....apakah ada orang yang menyalaghi kami? kalau tidak kenapa sakit isteriku kok tidak kunjung sembuh? beberapa tabib (atau dukun) bilang sumber penyakitnya dari tenung, mas...Pernah suatu saat di suatu tabib..dari perut isteriku keluar rambutnya, pengobatan berikutnya pernah pula keluar paku..pernah juga keluar gabah..yang terakhir keluar silet...tapi kok tidak sembuh. Sakitnya berkurang saat di rumah tabib itu, tapi setelah pulang sakit lagi. Mas...untuk berobat itu, kami sampai menjual tanah warisan..itung-itung selama sepuluh tahun itu habis kira-kira Rp. 120 juta. Padahal kerjaku cuman loper plastik mas...dari pasar ke pasar...sampai aku tidak jenak bekerja, karena ketika mau berangkat isteriku berwajah kesakitan dan memelas. Tetapi kalau aku tidak berangkat kerja..lantas makan apa?"
Aku sangat terenyuh...luar biasa...akhirnya aku deteksi, dan ternyata betul..lambungnya mengalami sariawan dan asam lambungnya tinggi sekali. Terus aku mintakan resepnya, dan dapat. Kondisi sakitnya dan resepnya saya berikan kepadanya, termasuk pelacakan riwayat sakit dan pengobatannya. Saya bilang..tidak pernah ada orang yang mengirim tenung kepada anda. Yang ada hanyalah maag kronis. Resep saya suruh mengkonsumsinya dengan disiplin sampai penyakit itu betul-betul tuntas.
Alhamdulillah..tiga hari kemudian mereka datang lagi menceriterakan bahwa sudah merasa sembuh..indikasinya ia bisa tidur dan untuk makan sudah enakan. Tapi saya bilang belum apa-apa...itu baru 20%. Mereka saya suruh melanjutkan resep tadi. Namun saran saya ini diabaikan. Ia mulai tidak disiplin..ia tidak meneruskan resepnya. Pada hari kelima, atau dua hari berikutnya...ibu itu muntah lagi...justru rasa perih diperutnya terasa lebih perih.. tapi ia tidak bilang kepadaku..cerita itu baru saya peroleh setelah dua minggu dari pertemuanku yang pertama merekla datang lagi ke tempatku, dengan menceriterakan kepadaku. Muntahnya pada hari kelima itu ternyata karena ia mengikuti saran dari tetangga-tetangganya agar memakan daun binahong. Setelah makan daun itu..bukannya tambah sembuh..tapi tambah parah..
Saya kemudian bilang kepada dia...mbak..anda kesini bilang minta tolong carikan obatnya. Saya sudah mencarikannya sebagaimana kemampuanku..tapi anda tidak disiplin sendiri..anda yang melanggarnya sendiri..kan saya bilang belum sembuh..baru 20%..itu juga baru tiga hari...lha wong sakitnya anda saja sudah 10 tahun lebih kok mau minta sembuh dalam tiga hari...ini bagaimana...? kalau anda disiplin dengan resep tadi...saya yakin dalam waktu tiga minggu akan dapat sembuh tuntas. Tapi, tentu kalau anda disiplin. Kalau tidak..ya. jangan menghayalkan bisa sembuh...ingat mbak..yang merasakan sakit itu anda..bukan saya..saya mendoakan anda sembuh..tapi kalau anda nggak mau sembuh...ya..itu salah anda....
Akhirnya, mereka berjanji akan disiplin dengan resep itu. Dan betul...tiga minggu kemudian, hasil deteksi saya menunjukkan kesembuhan 100%. alhamdulillah...pada kedatangan mereka yang terakhir itu, badan si ibu sudah sangat sehat...badannya sudah gemuk.. Alhamdulillah...subhanallah.

Menyembuhkan Orang Sakit Batu Empedu

Saat itu, aku kelas 1 SMP. Datang kepadaku pasangan suami istri yang sudah pensiun. Mengakunya yang pria berusia 65 tahun, dan yang perempuan berusia 62 tahun. Mereka mengeluh sedang sakit di diafragma kiri. Perutnya merasa sebah, dan tenaganya merasa berkurang jauh. Kedatangannya ke rumahku itu setelah 3 hari keluar dari rumah sakit yang telah merawatnya 2 minggu.
Waktu itu beliau hanya mengeluh sakitnya itu, tanpa memberitahu hasil pemeriksaan rumah sakit. Setelah saya melakukan penerawangan atas sakitnya, saya melihat ada keganjilan di empedunya. Jelasnya, sakitnya itu dikarenakan batu empedu. Setelah batu empedu itu saya ajak berkomunikasi, saya diberitahu resepnya dan cara pengobatannya. Kondisi yang ada dan resep kemudian saya sampaikan kepada pasien itu (yang sakit itu yang perempuan).
Setelah mendengar apa yang saya sampaikan, mereka secara saling melengkapi penjelasan, mengatakan bahwa apa yang saya deteksi itu sama dengan diagnosa dokter. Dokter bahkan hendak melakukan operasi, tetapi kadar gula darah ibu itu tinggi. Sehingga tidak jadi operasi. Maka ibu itu meminta pulang paksa dari rumah sakit.
Setelah gula darahnya saya deteksi, terlihat bahwa gula darahnya mencapai angka 360. Langkah yang saya lakukan adalah mengobati batu empedunya dulu dengan resep yang saya sampaikan tadi. Karena ibu ini disiplin seperti apa yang saya sarankan, alhamdulillah dalam waktu 3 minggu sudah dapat dikatakan sembuh. Tapi tetap saya sarankan untuk meneruskan resepnya hingga minggu ke empat. Setelah minggu keempat tadi, baru diabetesnya saya turunkan dengan resep juga, akhirnya dalam waktu dua minggu, kondisi gula darahnya bisa turun menjadi kisaran antara 160-180. Perlahan-lahan ibu itu menjadi segar kembali.
Alhamdulillah, apa yang Allah berikan kepadaku telah dapat meringankan beban penderitaan orang lain. Alhamdulillahhi robbil 'alamin, laa haula wa laa quwwata illa billahil aliyyil adziim.
Subhanallah.

Minggu, 07 Juni 2009

Hidup Berjuang, Matipun Berjuang

"Hidup adalah perjuangan" itu motto sebagian orang yang sering saya dengar. Dari motto itu saya mengartikannya perjuangan itu hanya terbatas pada saat menjalamni hidup di dunia, dan perjuangan itu akan berakhir setelah mati. Mugkin pengertian saya yang sempit itu sama dengan pengertian dari beberapa orang.

Pengertian sempit..memang demikia..karena perjuangan sejatinya tetap berlangsung meskipun manusia itu telah mati. Kematian hanyalah batas antara dunia dan akhirat. di akhirat atau alam setelah mati, manusia tetap hidup dan tetap berjuang.

Perjuangan manusia di dunia relatif luas, berjuang demi kelangsugan hidup, demi tercapainya cita-cita, demi martabat, demi hari akhir untuk kembali kepada Tuhan dengan Selamat, dan demi apa-apa lainnya. Perjuangan di alam setelah kematian adalah untuk peningkatan martabat agar menjadi lebih dekat dengan Tuhan, dan dimuliakan di tempat yang terindah. Di dunia manusia berdoa, di alam sana juga manusia seantriasa berdoa. Jangan dikira berdoa hanya di dunia saja.

Perjuangan di alam setelah kematian justru sangat berat, karena tidak ada balasa yang memperhitungkan amal yang diperbuat di sana. Kalaupun ada perhitngan, pahalanya jauh lebih banyak jika itu dilakukan di dunia. Meskipun di alam akhirat adalah alam abstrak, tetapi untuk berjumpa dengan Tuhan lebih mudah di dunia. Maka, wajar saja jika alam akhirat diartikan oleh sebagian orang sebagai alam konsekuensi, alam balasan dari perilaku di dunia.
Untuk itu, marilah kita perbanyak kebaikan di dunia... agar kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan kita. Wallohu'alam bishshowab.

Jumat, 29 Mei 2009

Syeh Siti Jenar dan Peran Politiknya

Masa muda Syeh Siti Jenar dialaminya di Cirebon, karena beliau dilahirkan di daerah itu. Ketika masa remajanya berlalu, maka ia pun mengembara mencari pemahaman ilmu agama hingga ke Demak. Pada saat itu, keraton Demak Bintoro dipimpin oleh rajanya yang bernaama Pati Unus. Sueh Siti Jenar berjumpa para wali yang mengajari ilmu agama kepadanya, yang kemudian memberikan kesempatan kepadanya untuk mengajarkan apa yang dipahaminya itu kepada santri-santri muda di Demak. Wali-wali yang menjadi guru Syeh Siti Jenar itu adalah Syeh Maulana Maghribi dan Syeh Maulan Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Dalam perjalanan meniti ilmu agama itu, beliaupun bertemu dengan Sunan Bonang, namun hanya sebentar saja.

Pergaulannya Syeh Siti Jenar di Demak termasuk sangat luas. Ia akrab dengan para wali, para petinggi pemerintahan Demak (bahkan rajanya sendiri sangat akrab dengan beliau), juga para pedagang yang berasal dari negeri semenanjung Arab, seperti Persia, Yaman, juga para pedagang Gujarat, dan sebagainya. Pergaulan yang luas ini semakin meningkatkan pengetahuannya karena banyaknya informasi yang dicerap dari pergaulannya itu. Informasi yang sangat menarik perhatiannya adalah ceritera tentang kearifan sufistik dan juga kelebihan-kelebihan atau karomah-karomah yang berkaitan dengan para sufi. Ketertarikannya itu membawanya menyeberang hingga ke Bagdad, melalui Demak.

Syeh Siti Jenar berangkat ke Bagdad sendirian melalui Demak. Jalur itu dipilihnya karena Demak ketika itu memiliki pelabuhan besar yang menghubungkan jalur-jalur internasional. Selain itu, memang beliau saat itu berada dan tinggal di Demak. Sesampainya di Bagdad, Syeh Siti Jenar justru tidak mempelajari praktek tarekat, namun menyibukkan diri mempelajari pustaka-pustaka keagamaan yang tersedia di perpustakaan kota Bagdad yang berjumlah sangat banyak dan tertata rapi. Ia bahkan sempat membaca mushab asli al-Qur'an yang di simpanh di perpustakaan itu. Tulisan-tulisan al-Halaj juga dipelajari, begitu pula tulisan dari Syeh Abdul Qodir Jailani.

Meskipun ia telah mempelajari ilmu-ilmu yang ada pada berbagai literatur itu, namun ia tidak tertarik mengembangkan sesuai dengan literatur itu. Alasannya adalah, ajaran seperti al Halaj, misalnya, tidak sesuai dengan kultur Jawa yang telah dikenalnya. ajaran al-Halaj menurutnya terlalu keras, dan itu tidak baik bagi masyarakat Jawa. Akhirnya ia meramu sendiri sesuai dengan pemikiran dan pemahamannya, menjadi ajaran sendiri yang disesuaikan dengan kultur Jawa. Ajaran ini dikemasnya dalam tafsir al Ikhlas, yang dikembangkan melalui dakwahnya, yang intinya adalah ketauhidan. Ketauhidan yang diajarkan menenkankan pada penyatuan antara pengetahuan dan tindakan, tidak hanya sebatas pemahaman belaka. Pencapaian puncak pendakian ketauhidan inilah yang dituju, yang dinamainya dengan sebutan manunggaling kawulo gusti.

Dalam proses pengajaran ajarannya itu, Syeh Siti Jenar akhirnya berbenturan dengan para wali, yang tidak sepakat dengan cara-cara penyampaiannya. Para wali umumnya memaklumi inti ajarannya, hanya saja tidak setuju dengan cara penyampaiannya yang secara vulgar dan menggeneralisir, tanpa memandang kesiapan mental dan pemahaman dari anak didiknya. Para wali lebvih menginginkan agar Syeh Siti Jenar menyebarkan ilmu itu secara khusus dengan memperhitungkan kadar pengetahuan dan keimanannya agar tidak dicerna mentah dan kemudian menyesatkan. Pendapat para wali ini tidak disepahami. Syeh Siti Jenar kukuh pada pendapatnya bahwa semua orang berhak mendapat pengajaran yang sama, baik materi maupun caranya. Karena pengetahuan itu adalah hak siapa saja.

Keteguhan Syeh Siti Jenar ini kemudian mendapat serangan yang sama dari kaum pendatang dari Yaman, yang ketika itu selain berdagang juga menyebarklan agama Islam. Orang-orang dari Yaman pada waktu itu bersikeras untuk melakukan pemurnian Islam seperti apa yang terjadi di negerinya sana. Upaya pemurnian ini dilakukan secara gebyah uyah tanpa memperhatikan kondisi sosial dan budaya setempat. Akhirnya, orang-orang Yaman ini selain berbenturan dengan Syeh Siti Jenar, juga berbenturan dengan para wali dan para petinggi kerajaan Demak Bintoro, yang secara perlahan dan sabar menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya. Benturan-benturan ini sempat menimbulkan terhentinya perputaran roda perekonomian, karena orang Yaman, yang ketika itu memonopoli jalur perdagangan internasional, melakukan embargo ekonomi. Namun demikian, ketika itu, Trenggono, seorang raja baru di negeri Demak mengambil kebijaksanaan dengan cepat dan tepat, sehingga perputaran roda perekonomian berjalan kembali, dan akibat politiknya itu, orang-orang Yaman yang beraliran keras meninggalkan Demak, kembali ke Malaka dan Gujarat, bahkan kampung halamannnya. Meskipun tidak didahului dengan peperangan.

(kisahnya akan bersambung.....selamat membaca....)

Selasa, 10 Maret 2009

JALASUTERA

Jalasutera, adalah nama yang diberikan oleh Sunan Kalijaga kepada jaringan ulama yang dibentuknya, dalam rangka menyukseskan misi pembangunan Benteng Peradaban dan Benteng Kedaulatan, ketika eksistensi Demak Bintoro mulai terancam oleh sepak terjang Portugis di Malaka.

Jalasutera atau Jaringan Ulama lintas selatan Pulau Jawa ini dibentuk setelah Sunan Kalijaga terinspirasi jaring laba-laba. Ulama-ulama yang menjadi anggota jaringan ini, pada awalnya hanya terbatas pada ulama-ulama yang bergelar Sunan ataupun Kiageng, yang cukup ternama, berada di jalur lintasan Demak hingga Hutan Mentaok, ditambah dengan politikus-politikus Kerajaan Demak Bintoro, khususnya yang ada di Kadipaten Pajang. Beberapa nama yang termasuk dalam Jalasutera pada tahap awal, antara lain: Sunan Bayat, Sunan Panggung, Ki Ageng Jejer, Sunan Geseng, Bupati Brang Wetan, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Giring. Pada tahap berikutnya menyusul nama-nama seperti: Ki Ageng Majasto, Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Lengking, Ki Ageng Selo, dan sebagainya.

Jaring Jalasutera ini diaktifkan pada tahun 1569, ketika Sunan Kalijaga melakukan ekspedisi rahasia, untuk mencari lokasi yang cocok untuk pendirian Benteng Peradaban dan Benteng Kedaulatan. Ekspedisi ke Selatan ini, ke Hutan Mentaok, merupakan salah satu dari tiga ekspedisi rahasia lainnya, yaitu ke Cirebon, dan Ke Tuban. Misi ini disebut misi rahasia, karena ini merupakan kebijakan Keraton Demak Bintoro, dengan raja Sultan Trenggono, yang hendak menyiasati atau mengamankan peradaban Islam yang masih tergolong awal.

Untuk ekspedisi-ekspedisi berikutnya, arah bagian selatan diserahkan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai pemimpinnya, ke arah barat ditunjuklah Sunan Gunungjati, dan ke timur Sunan Prawoto, yaitu putra mahkota kerajaan Demak Bintoro, yang kelak menggantikan Sultan Trenggono setelah wafat. Ketiga misi ini masih tetap menjadi misteri atau rahasia hingga kini, bahwa keinginan Sultan Trenggono dan Sunan Kalijaga untuk membentuk embrio yang akan melahirkan keraton-keraton baru. Dari ketiga ekspedisi itu, ekspedisi ke timur telah mengalami kegagalan pada masa awal. Kegagalan ini karena, pengemban tugasnya kurang matang dalam berpolitik. Misi ke selatan berhasil diwujudkan setelah Kerajaan Pajang mengalami keruntuhan. Misi ke Barat akhirnya berhasil, bahkan meluas hingga ke Banten, setelah mampu meyakinkan dan bekerja sama dengan Pajajaran.

Jalasutera memang lebih tepat disebut sebagai jaringan ulama, hanya saja anggotanya tidak terbatas pada ulama Islam saja. Ada Ki Ageng Mangir juga menjadi anggota jaringan itu. Demikian pula Ki Surodipo dan Ki Tejokusumo, mereka kakak beradik dan warga desa di dekat candi Payak di dekat Kaliopak, juga menjadi jaringan Jalasutera ini. Bahkan di tempat tinggal Ki Surodipo dan Ki Tejokusumo ini, kemudian didirikan posko dan tempat penginapan yang diperuntukkan bagi rombongan ekspedisi dari Demak Bintoro pada ekspedisi-ekspedisi berikutnya. Di sekitar lokasi posko penginapan itu diberi nama oleh Sunan Kalijaga dengan sebutan Desa Bintaran. Kedua kakak beradik tadi bertugas sebagai pelayan sekaligus penyuplai bahan-bahan kebutuhan untuk rombongan dari Demak Bintoro yang datang ke Bintaran. Kedua orang ini lebih dikenal sebagai penjaga tamu atau Ki Jogo Tamu.

Di dekat Bintaran juga ada desa yang mendapat perhatian penuh, yaitu Desa Yosoharjo. Desa ini letaknya sebelah barat Bintaran setelah menyeberang Kaliopak. Desa ini ketika itu bermasyarakat Hindu. Meskipun para rombongan sudah beragama Islam, namun hubungan dengan orang-orang di Yosoharjo berlangsung damai, tanpa menyinggung masalah-masalah kepercayaan. Desa ini, sekarang ini berada di Banguntapan. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dan anggota rombongannya adalah melalui pendekatan budaya. Cara ini yang dilakukan juga kepada Ki Ageng Mangir yang merupakan penganut Kejawen atau Kapitayan.

Markas Jalasutera sendiri berpindah-pindah. Tempat yang paling lama sebagai markas Jalasutera adalah di Bayat. Kemudian, berpindah juga ke Gunung Panggung Piyungan. Di Gunung Panggung ini, Sunan Panggung mengajarkan Islam kepada masyarakat. Bahkan putera dari Panembahan Senopati, yaitu Raden Ronggo dan Raden Songgoriti (Raden Mas Jolang), juga belajar mengaji di pondok pesantren Sunan Panggung. Selain Sunan Panggung, di gunung Panggung ada juga ulama yang membantu Sunan Panggung, yaitu Sunan Geseng. Di sebut Sunan Geseng, karena kulitnya berwarna hitam gelap, karena beliau berasal dari Ethiopia. Beliau putera dari Khaleef, seorang pedagang yang juga murid dari Sunan Gresik. Sedangkan Sunan Panggung sendiri adalah orang asli Grobogan, murid Sunan Kalijaga. Putera dari Sunan Panggung ini yang dikenal dengan Sunan Grobogan.