Kami sedang menunggu buku ketujuh kami tentang "Mbah Mutamakin"

Jumat, 01 Juli 2011

Renungan Pondok Pangelmon: Aku Bertanya Bapak Menjawab

Renungan Pondok Pangelmon: Aku Bertanya Bapak Menjawab
oleh Argawi Kandito pada 26 Juni 2011 jam 10:53

Apa sebenarnya arti kehidupan?

Kehidupan itu bisa diartikan banyak hal, mulai dari pengertian yang sederhana hingga rumit. Dalam pengertian sederhana: segala kegiatan yang dilakukan suatu obyek selama ia masih punya energi untuk melakukannya. Kalau sudah tidak punya energi itu artinya sudah tidak hidup.

Kehidupan dalam pengertian yang rumit: satu tahapan dimana suatu obyek itu berkembang dari nol menjadi tak terhingga. Di dalamnya itu ada bermacam kejadian yang dialami obyek tersebut. Mulai dari goncangan, hambatan, percepatan. Itulah kehidupan dalam arti yang komplek.

Di dalam setiap fase proses kehidupan itu sendiri ada fase-fase minor. Yang di dalam manusia itu adalah proses pendewasaan. Dari suatu kejadian manusia belajar untuk tegar, sabar, menghargai, dan sebagainya.



Orientasi hidup yang baik itu bagaimana?

Supaya lebih jelas, kita harus melihatnya juga dengan perspektif takdir. Takdir itu lintasan dari kehidupan itu sendiri. Orientasi sendiri itu menunjukkan di dalam melewati takdir itu, yang didalamnya memungkinkan adanya tikungan, jalan liku, jalan lurus, dan sebagainya. Langkah melewati takdir itu adalah orientasi. Orientasi itu berarti tujuan.



Orientasi itu melawan takdir nggak?

Tidak, tidak melawan takdir. Tepatnya, orientasi itu berbeda dengan takdir. Ibaratnya bumi yang melintasi matahari, Matahari itu punya titik jauh dan dekat dengan bumi. Lintasan bumi itulah takdir. Ingin melewati titik jauh atau titik dekat itulah orientasi. Proses mengelilingi matahari itu adalah orientasi. Berpusat pada poros yang sama itu matahari. Sedangkan lintasan bumi itu adalah takdir.



Mungkin nggak orientasi itu melawan takdir?

Sebenarnya orientasi tidak ada hubungan dengan takdir. Orientasi kehidupan itu merupakan cara pandang dalam melewati lintasan kehidupan. Harus dilakukan seperti apa? bagaimana caranya? itulah orientasi. Orientasi itu cara pandang. Orientasi itu cara pandang pribadi, dan takdir itu ketetapan.

Contohnya: Ketika bumi itu berorientasi kepada matahari, maka ia berputar mengelilingi matahari, tetapi kalau bumi tidak berorientasi pada matahari, maka dia tidak akan berputar mengelilingi matahari. Tetapi memang sudah tersedia jalannya bagi bumi itu untuk bisa mengelilingi matahari. Meskipun begitu, Kalau orientasinya bumi tidak kesitu, ya bumi tidak akan berjalan melintasi jalan itu. Tegasnya: Takdir itu potensi. Orientasi itu kerjanya, perspektifnya, untuk mewujudkan potensi. Kalau seseorang itu tidak beraksi, maka hanya mendapatkan takdir yang sedikit, setitik itu. Itulah yang saya katakan sebagai tidak ada hubungannya, atau ketidaksinkronan antara takdir dan orientasi tadi.

Orientasi itu menentukan pilihan. Hasil dari orientasi itu itu sendiri menentukan cara-cara. Cara-cara itu menentukan ilmu. Dengan demikian, orientasi itu terkait dengan ilmu. Artinya, orientasi ini yang akan berkaitan dengan suatu jenis rejeki dalam kehidupan.

Rejeki sendiri ini bermacam-macam tipe. Tipe pertama, Ada rejeki yang sesuai takdir, sudah given. Ini contohnya rejeki yang membuat manusia itu hidup. Semua manusia mendapatkan rejeki jenis ini. Tipe kedua, rejeki yang bersifat bonus (rejeki yang datangnya tidak disangka-sangka, disebut rejeki nomplok). Rejeki ini sebagai bentuk tambahan dari rejeki yang pertama yang datangnya pemberian Tuhan yang tidak terkait dengan upaya. Tipe ketiga, adalah rejeki yang bisa diunduh dengan ilmu. Nah, untuk meraih rejeki yang ketiga ini ilmu harus digunakan melalui kerja. Artinya, rejeki ini diperoleh melalui suatu upaya. Maka, siapa yang kerja dengan cara yang cerdas, giat, sungguh-sungguh akan mendapatkan. Kalau kita diperintahkan untuk mencari rejeki, maksudnya adalah rejeki yang kettiga ini. Sangat memungkinkan, kita berupa untuk mendapatken rejeki yang ketiga ini, lalu tuhan memberikan bonus untuk rejeki yang kedua tadi.



Jadi kalau begitu, berarti kemiskinan itu sendiri takdir nggak?

Kemiskinan itu ada beberapa jenis, tergantung pada sebab kemiskinan itu sendiri. Pertama, ada orang yang punya ilmu, punya kemampuan tapi hidupnya kekurangan, itu berarti orientasinya lemah. Kedua, orang yang punya ilmu tetapi tidak punya kemampuan, itu berarti tahu dan punya orientasi, tetapi tidak punya daya gerak. Ketiga, orang yang tidak punya ilmu, tidak punya kemampuan, punyanya hanya orientasi, itu sama saja dengan pergerakan yang mandek, hanya punya angan-angan. Itu juga memiskinkan. Keempat, jika seseorang itu tidak punya semuanya. Inilah yang sangat memiskinkan. Artinya, kemiskinan itu bukan takdir, tetapi bisa jadi karena pemilihan orientasi, tidak punya ilmu, tidak punya kemampuan. Jika faktor-faktor itu diatasi, maka tidak ada kemiskinan. Sebenarnya Tuhan itu tidak menciptakan orang untuk miskin. Sudah dibekali semua. Tetapi bagaimana cara menggunakan bekalnya itulah yang menjadi problem. Tuhan kan maha pemurah maha penyayang. Tidak mungkin menciptakan makhluknya dalam kemiskinan. Kemiskinan itu faktor manusiawi, bukan ilahiah.

Nah, agar supaya tidak miskin ya harus mendayakan semuanya itu.



Bagaimana dengan yang miskin terstruktur?

Tentang kemiskinan yang terstruktur, juga bisa dijelaskan dengan penjelasan di atas. Orang-orang yang berada pada kemiskinan yang terstruktur bisa jadi karena tidak mampu mengatasi faktor-faktor penyebab kemiskinan tadi. Gagal dalam memberdayakan ilmu, kemampuan, dan orientasi. Maka untuk mengatasinya, ya orientasinya ditata, ada upaya pengasahan ilmu dan kemampuan kemampuan, serta melakukan kerja secara aktif. Nah, ini yang perlu dicermati. Jangan sampai seseorang karena ketidakmampuannya itu lantas berfikir ini adalah takdir. Kalau sudah berfikir seperti itu maka akibatnya akan fatal. Kalau itu terjadi, maka mereka penganut fatalism.



Siapa yang perlu dipersalahkan dalam hal kemiskinan?

Tidak ada yang bisa disalahkan dari kemiskinan itu. Itu kondisional. Artinya diri sendiri, pemerintah, itu belum tentu salah. Tetapi bisa saja salah. Yang terpenting adalah mengurai faktor-faktor penyebab kemiskinan tadi. Artinya, semua dari mereka itu bisa secara bersama-sama mengatasi kemiskinan tersebut.

Selasa, 21 Juni 2011

Dialog Dengan Gus Dur Tentang Ruyati yang Dihukum Pancung

Dialog dengan Gus Dur tentang Ruyati
Gus, baru saja TKW kita mati dihukum Pancung Arab Saudi. Apa komentar anda?
Itu menunjukkan kemunduran dan kegagalan pemerintah kita.
Letak kemunduran dan kegagalannya dimana Gus?
Pemeritah itu kan wajib melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah. Amanat undang-undang dasar Ini harus dipedomani dimana saja. Termasuk di luar negeri. Apalagi TKI itu kan bekerja di sana, menghasilkan devisa, yang tujuannya menyejahterakan ekonomi. Itu kan terjadi demi mengatasi kemiskinan. Kita wajib melindungi mereka.
Kejadian seperti ini kan pernah terjadi juga di jaman dulu to Gus?
Memang. Memang ada sejak dulu. Tapi alangkah baiknya jika kebodohan lama itu tidak diulangi lagi saat ini. Biarlah yang dulu itu menjadi dosa pemimpin yang lalu. Bukan kok malah dosa itu ditiru.
Inikan masalah qisas Gus? Apakah bisa dibatalkan?
Ya..qisas ataupun apalah…Prinsipnya, setiap Negara itu harus menghormati Negara lain. Ini berarti ada ruang untuk dinegosiasikan. Ada negosisasi yang bisa dilakukan.
Dalam kacamata HAM, Arab itu sangat lemah. Ya karena pemberlakuan qisasnya itu.. Tetapi dalam kacamata agama dengan kultur Arabnya itu nggak apa-apa.. Meskipun dalam kepatutan internasional dan PBB itu tidak layak. Kalau ditelusuri dengan seksama, justru kita seharusnya dapat penghormatan dari mereka.
Kenapa?
Karena kita ini sama-sama anggota PBB. Masyarakat internasional. Harus saling melindungi. Selain itu, kita sudah banyak menyumbang hal-hal positif terhadap Arab. Kita setiap tahun mengirimkan devisa melalui haji, tenaga kerja, yang akhirnya memutar perekonomian mereka lebih cepat. Mereka juga menanamkan ideologinya ke kita. Kita memang dapat keuntungan dari itu, tetapi keuntungan mereka lebih besar. Maka tidak ada alasan mereka menolak negosiasi dengan kita.
Nyatanya begitu?
Ya itu tadi. Karena kekeliruan kita mengambil jalan. Jangan dianggap hilangnya satu nyawa itu selesai. Traumanya para TKI kan masih ada. Coba kalau mereka lalu nggak mau kerja lagi dan kembali ke Indonesia semua. Apa nggak menimbulkan masalah baru?
Negosiasi seperti apa yang harus ditekankan?
Negosiasi tentang bagaimana kita harus melindungi warga Negara kita. Memang kita tidak bisa mengintervensi Negara mereka. Dalam hubungan internasional kita tidak boleh intervensi. Tetapi kita berhak untuk melindungi dan mengurusi warga Negara kita yang bermasalah di negeri lain. Itu Bisa dinegosiasikan. Sebenarnya hukum qisas itu tidak hanya tergantung pada keluarga yang memaafkan. Ada sisi lain yang bisa dinegosiasikan, seperti diat dan sebagainya. Sebenarnya diat itu Itu kan wujud dari bisa dinegosiasikan.
Bagaimana kalau keluarga korban bersikeras tidak memaafkan?
Mereka itu sebenarnya meminta penjaminan sebagai wujud ditegakkannya keadilan. Pernjaminan ini bisa dari Negara atau dari apapun. Raja mereka bisa menjamin itu. Maka kita bisa meminta Raja mereka untuk menjamin. Kenapa raja bisa begitu? Karena Raja punya hak untuk mendekati rakyatnya. Ini peluang.
Apakah alasan itu yang anda gunakan untuk Zainab?
Ya seperti itu. Warga Negara itu komponen terpenting. Harus betul-betul kita perjuangkan. Dengan komunikasi yang baik dan sopan santun, mereka akan luluh.
Waktu anda berhasil meyakinkan, apakah karena hubungan pribadi apa hubungan Negara?
Memang saya kenal akrab dengan Raja Fahd secara pribadi. Tetapi selain itu, kita kan sudah berhubungan baik sejak lama dengan Arab. Maka mudah untuk melakukan negosiasi. Selain alasan pribadi ya alasan sesama kepala Negara. G to G. Andai saya tidak kenal juga tetap akan melakukan negosiasi seperti itu. Kita bisa menunjukkan keuntungan-keuntungan yang mereka dapatkan dari kita. Mereka kan juga punya nalar untuk itu. Mereka juga memedomani politik etis. Mereka ini Negara timur. Ada toleransi. Tetapi ini memang harus dilakukan dengan bahasa komunikasi yang baik.
Kalau sudah terjadi seperti ini?
Ya jangan diulangi lagi. Kalau diulangi..ya.. bodoh.
Kultur Arab itu seperti apa?
Pada dasarnya mereka sama dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Sama. Tetapi cenderungnya mereka akan menggunakan hukumnya sendiri. Bangsa Arab itu bukan tipe bangsa yang melihat keluar, atau melihat modernitas. Mereka terkadang tidak melihat pola-pola hubungan internasional. Kecenderungannya mereka berdiri diatas hukumnya sendiri. Tidak memperhatikan Negara lain, termasuk terhadap Negara yang telah memberikan jasa bagi mereka. Tetapi kalau kita ingatkan mereka dan kita dekati dengan kerjasama antar Negara, mereka mau. Kalau dilihat sepintas kulturnya memang keras, tetapi kalau kita dekati sangat lunak. Orang Arab itu sangat mudah kita bujuk. Dengan syarat pendekatannya bagus, mereka akan luluh. Tetapi dengan pendekatan keras, malah nggak akan jalan. Negara-negara Arab kebanyakan seperti itu. Lihat saja yang terjadi antara Lybia dengan NATO. NATO dengan pola keras, Khadafi tidak akan apresiatif. Kalau dilakukan dengan soft mungkin Khadafi rela mundur. Kuncinya komunikasi.
Kalau sudah terlanjur seperti ini Gus, menarik duta besar efektif apa nggak?
Salahnya Duta Besar apa? Duta itu tidak salah, yang salah ya presiden dan menteri-menteri yang terkait.
Kan Duta itu paling dekat keberadaannya dengan mereka?
Tapi untuk hubungan internasiona itu, paling rendah menteri. Bukan Duta.
Ini masih ada lagi Gus. TKW bernama Darsem ini juga mau dipancung jika tanggal 7 Juli tidak membayar Diat 4,7 M. ini bagaimana Gus?
Ya..Pemerintah harus menyelesaikan. Itu tanggung jawab pemerinah. Jangan sampai terhukum lagi.
Berarti harus bayar Diat ya Gus?
Kalau begitu saja sampai membayar Diat..ya Pemerintah bodoh. Wong kita ini banyak menguntungkan mereka kok. Harusnya ya lepas tanpa syarat. Nego saja tentang keuntungan yang kita sumbangkan bagi mereka. Pokoknya..jangan sampai Darsem dipancung. Dia harus dibebaskan.
Baik Gus. Terima kasih.

Kamis, 16 Juni 2011

Dialog dengan Bung Karno tentan Marheinisme

Marhaenisme
Dilansirnya ideologi Marhaenisme oleh Bung Karno dilatarbelakangi oleh keinginannya untuk menggerakkan massa, terutama massa akar rumput, karena ketika itu massa ini seakan statis, dan kurang responsip dengan keadaan kala itu. Massa seakan tidak tahu apa yang harus diperbuat demi nusa dan bangsanya. Tidak seperti massa priyayi, terutama yang telah berpendidikan, yang telah berkesadaran tinggi serta bergerak mandiri untuk melakukan perjuangan merubah keadaan, dengan tujuan kemerdekaan, dan kesejahteraan masyarakat dan bangsa Indonesia.
Apa yang dirasakan Bung Karno ketika itu, dirasakan pula oleh pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka masyarakat. Mereka sama-sama ingin bergerak bersama rakyat, berjuang untuk kemerdekaan, agar kehidupan bangsa meningkat menjadi sejahtera. Puncak perasaan itu tumbuh menguat tatkala ada momentum peringatan hari kebangkitan nasional dan peringatan sumpah pemuda. Dari perenungannya yang dalam untuk menemukan solusi menggerakkan massa rakyat bawah ini, maka Bung Karno akhirnya menemukan jawabannya, yaitu memunculkan ideologi Marhaenisme.
Istilah Marhaenisme ini sendiri diambil dari nama seseorang filosof Eropa Timur, yang bernama Max Marhaen. Pemikiran filosof ini meskipun tidak popular, namun mampu mengilhami lahirnya munculnya gerakan renaissance di Eropa, pada abad pertengahan. Kala itu, Negara-negara di Eropa, terutama Negara-negara yang berkembang, bangkit menuju pencerahan dengan berbasis pemikiran Marhaen itu.

Selasa, 24 Agustus 2010

Syeh Siti Jenar Naik Haji

Syeh Siti Jenar Naik Haji

Setelah beberapa waktu belajar di Baghdad dan menjelang kepulangannya ke Jawa, Syeh Siti Jenar menyempatkan diri untuk berangkat ke negeri Arab guna menunaikan rukun Islam kelima, Ibadah Haji.

Beliau tinggal di Arab tidak lama. Di negeri itu hanya dalam rangka melakukan ibadah haji saja. Tidak ada agenda lain di luar itu, misalnya belajar. Kedatangannya pun menjelang waktu rangkaian ibadah haji dilakukan, dan setelah selesai melakukan ibadah haji beliau langsung berangkat pulang ke negeri Jawa yang sudah sangat dirindukannya.



Menurut pengakuannya, selama melakukan ibadah haji ini Syeh Siti Jenar merasa memperoleh suatu anugerah yang luar biasa bisa mengunjungi Ka'bah. Selain itu beliau juga memperoleh inspirasi dari rangkaian tahapan ibadah haji. Tiap rukun haji dimaknai secara mendalam. Dari pemaknaannya masing-masing rukun itu yang kelak dijadikan suatu konsep ajaran untuk diimplementasikan.

Pemaknaan atas tiap-tiap haji itu diceritakannya sebagai berikut:



Haji yang ditandai dengan datangnya orang dari seluruh penjuru dunia, baik dari bagianselatan, barat, utara, timur, datang menuju suatu titik yang ditandai denganbangunan Ka'bah,

menurut Syeh Siti Jenar menunjukkan arti monoteisme, yaitu kepercayaan bahwa Tuhan itu tunggal. Ibadah haji ini merupakan manifestasi dari syahadad tauhid, yang bersaksi bahwa tuhan itu esa.

Asyhadu anla ilaha ilaAllah. Tiada Tuhan selain Allah. Kaum muslim berkenan datang ke sana dan melakukan ritual-ritual yang berdasar rukun dan syarat yang ditetapkan menunjukkan manifestasi dari persaksiannya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah benar-benar Rasul utusan Allah.

Wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.Itu menunjukkan bukti bahwa mereka betul-betul percaya bahwa apa yang disampaikan oleh Rasulllah itu adalah benar-benar bersumber dari Allah SWT.



Tawaf,

yaitu berputar mengelilingi Ka'bah selama tujuh kali itu dimaknai oleh Syeh Siti Jenar sebagai simbol perputaran dunia, juga dunia kehidupan.

Dalam kaitannya dengan dunia kehidupan, perputarannya sama dengan perputaran tawaf tersebut.Adakalanya perputarannya cepat adakalanya terasa lambat. Oleh karena itu,pasang surutnya rejeki dalam kehidupan, lambat dan cepatnya tercapainya tujuan dari suatu keinginan, mesti akan mengalami ritme seperti itu. Simbol tawaf ini harus dimaknai sebagai pentingnya kesabaran dan keikhlasan. Sabar dan tekun dalam mengikuti arus kehidupan, serta ikhlas menerima keadaan.



Sya'i

yaitu lari-lari kecil dari Safa ke Marwa, selain menunjukkan napak tilas perjalanan Siti Hajar mencari air, itu dimaknai oleh Syeh Siti Jenar sebagai simbol dari perjuangan. Perjuangan tiak akan berhenti sebelum tujuan akhirnya tercapai. Perjuangan tidak akan pernah terwujud tanpa adanya motivasi yang kuat, ketekunan, kerja yang sungguh-sungguh, dan harapan pencapaian. Menurutnya, ini merupakan etos yang harus dimiliki seluruh umat muslim, karena umat muslim mengemban visi rahmatan lil 'alamin.



Wukuf,

yaitu berdiam diri di Padang Arafah dimaknai oleh Syeh Siti Jenar sebagai bentuk dari menggugah kesadaran diri, kesadaran tentang kesejatian manusia. Dalam ritual itu perlu melakukan perenungan dan evaluasi diri tentang apa yang telah dilakukan. Melakukan kontemplasi mencari inspirasi apa yang harus dilakukan kedepan. Memohon ampunan atas segala dosa. Memohon ditunjukkan jalan yang benar agar bisa melakukan amal ma'ruf nahi munkar. Menurutnya, jika wukuf ini dilakukan dengan kesejatian makna wukuf maka manusia dipastikan akan mempunyai kesadaran diri tentang kemakhlukannya.



Jumrah,

yaitu melempar batu-batu kecil kepada tugu-tugu yang dianggap sebagai syaitan, dan ini konon merupakan napak tilas Nabi Ibrahim melempari Syaitan yang mengganggu dirinya ketika hendak menjalankan perintah Tuhan. Ritual ini dimaknai oleh Syeh Siti Jenar sebagai simbol dari pentingnya menekan kejumawaan, nafsu, dan keduniawian.

Ketiga hal ini perlu senantiasa ditekan, karena kalau sempat mendominasi perilaku manusia akan mengakibatkan kehancuran. Nafsu itu ditekan agar tidak muncul. Jika manusia mampu menekan ketiga-tiganya, maka sifat dasar manusia atau hakikat manusia yang akan muncul, bukan sifat syaitan yang ditunjukkan oleh ketiga hal itu tadi.



Tahalul,

yaitu memotong rambut kepala, dimaknai oleh Syeh Siti Jenar sebagai bentuk dari kesederhanaan. Rambut diibaratkan sebagai hiasan atau asesoris yang terkadang membuat orang tertipu dalam melihat keasliannya. Agar ada kejernihan dan kelugasan dalam menilai keaslian, maka diperlukan kesederhanaan. Beliau menegaskan lagi bahwa kesederhanaan itu merupakan asasiah manusia. Budaya konsumerisme dan sifat-sifat yang hedonistik seperti ditampilkan oleh generasi sekarang ini, yang lebih menunjukkan apa yang dimiliki dan disandang secara materi, bukan sebaliknya menunjukkan keasliannya, menurutnya, ada penyimpangan dari semangat nilai tahalul tadi.



Qurban,

yang ditandai dengan pemotongan seekor binatang, selain merupakan bentuk napak tilas Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah, dimaknai oleh Syeh Siti Jenar dengan semangat berbagi. Untuk bisa berbagi, maka nafsu kehewanan yang bersifat mementingkan diri sendiri, menuruti nafsu hewaniah yang tidak akan berhenti mengunyah sebelum kenyang, harus diakhiri. Manusia harus menggunakan akal budinya untuk tidak larut dalam individualisme, tetapi harus memperhatikan kehidupan sosial, dan ikut serta dalam menciptakan keharmonisan.



Sumber : wawancara Argawi Kandito dan SSJ.

Rabu, 04 Agustus 2010

Tsunami Matahari dan Teori tentang Musnahnya Alam.

Tsunami Matahari dan Teori tentang Musnahnya Alam.
Oleh: Syeh Pandrik

Ada perbedaan antara apa yang disebut dengan Lidah Api dan Tsunami Matahari. Lidah Api Matahari itu merupakan respon matahari menerima aliran energy dari space di sekitar matahari. Respon itu merupakan bentuk keseimbangan. Besar-kecilnya respon itu dapat diukur dari panjang dan besarnya Lidah Api yang dijulurkan Matahari. Lidah api ada yang panjangnya sejauh 1000 kilo meter dari lapis luar matahari, atau panjangnya kira-kira sama dengan pulau Jawa. Ada juga yang panjangnya mencapai lebih dari satu juta kilometer. Lidah Api yang terpanjang ini seringkali mencapai Merkurius, maka Merkurius senantiasa terbakar. Bahkan, ketika posisi Bumi tidak terbentengi oleh Venus dan Merkurius, Lidah Api Matahari ini bisa mencapai Bumi. Ketika Bumi terbentengi, dan Merkurius terbakar, gelombang panas LIdah Api itu bisa mencapai Bumi, yang menyebabkan mengganggu magnet alam, mengganggu system satelit buatan manusia, sehingga system komunikasi terganggu.
Efek yang terjadi di Bumi seperti itu bisa juga disebabkan oleh Tsunami Matahari. Bahkan bisa lebih besar dampaknya. Sistem kelistrikan yan digarap manusia dapat mengalami gangguan berupa mati total. Iklim juga bisa berubah. Pada musim kemarau, bisa saja mengalami hujan yang sangat lebat disertai hujan petir, dan air hujannya terasa hangat. Begitu pula ketika musim penghujan, hujan akan tambah semakin lebat. Langit akan penuh electron. Sangat membahayakan bagi penerbangan. Di lapisan udara atas, kondisi oksigen bisa rusak, tetapi di lapisan bawah (permukaan bumi) cenderung normal. Efek langsungnya tidak berbahaya, tetapi efek lanjutan dalam jangka waktu ke depan akan berbahaya. Misalnya, akan terjadi kemarau yang berkepanjangan, munculnya udara yang mengandung racun, dan sebagainya.
Tsunami Matahari ini merupakan kejadian alami Matahari karena terjadinya adanya pelepasan energy inti Matahari akibat akumulasi panas yang ditimbulkan selama perputarannya. Panas yang terjadi di inti Matahari ini mengakibatkan aliran masuk energy dari space di sekitar Matahari untuk menggantikan energy inti atau mengisi ruang di inti Matahari. Pada saat itu terjadi, maka energy di sekitar Matahari akan tersedot. Sebagai penyeimbangnya, maka Matahari mengeluarkan Lidah Api.
Dampak yang lebih buruk dari Tsunami Matahari ini bisa mengakibatkan terlepasnya kerak matahari. Ketika kerak Matahari terlempar, maka serpihan-serpihannya yang berupa gas padat itu akan berhamburan menghantam tata surya yang ada di sekitarnya. Jika serpihan kerak Matahari itu mengenai planet, bintang-bintang, atau benda-benda langit di sekitar tata surya itu, maka akan mengakibatkan kerusakan yang dahsyat. Sebagai perkiraan, jika ada serpihan kerak matahari sebesar bola kaki, maka bisa mengakibatkan kebakaran hebat seluas satu daerah Kabupaten.
Terlepasnya kerak akan terjadi jika pelepasan energy dari inti Matahari sangat besar. Jika terjadi hal seperti itu, maka berarti Matahari sedang melakukan peremajaan energy. Peremajaan energy seperti itu sebenarnya bukan hanya terjadi pada Matahari saja, namun seluruh bintang-bintang mempunyai peluang seperti itu. Bahkan, mereka bukan hanya terbatas pada kondisi peremajaan saja, bahkan keausan total dari benda-benda seperti itu bisa terjadi. Kondisi yang terakhir ini yang menyebabkan musnahnya benda tersebut dari alam semesta raya ini. Maka, matahari ataupun bumi, bulan, dan planet-planet lain sejatinya bisa hancur dan musnah.
Sebenarnya, ketika kita mau melihat atau berandai dampak yang paling buruk. Mataharipun bisa meledak dan musnah dari alam semesta. Seandainya Matahari meledak, maka serpihan-serpihannya akan menghantam planet, bintang-bintang, dan benda-benda langit lain di sekitarnya. Semua yang terkena serpihan itu akan mengalami terbakar dan bisa mengakibatkan kehancuran. Kondisi yang paling menghancurkan adalah disebabkan oleh sedotan energy yang dayanya super sangat besar yang akan menyedot seluruh materi tata surya masuk ke dalam putaran arus energy tersebut. Ketika semua tersedot ke dalam pusaran itu, maka semuanya akan hangus dan hancur menjadi partikel-partikel terkecil atau atom-atom. Kondisi tarikan ni akan bertahan dalam waktu yang lama hingga seluruh materi yang ada dalam grafitasinya tersedot musnah. Hal ini sesuai dengan teori para ahli yang mengatakan bahwa ketika sebuah bintang meledak, maka akan terbentuk black hole yang menyedot semua materi di sekitar obyek yang meledak itu. Materi yang tersedot tadi juga akan "menghilang" lalu menjadi atom-atom.
Hasil pengamatanku menunjukkan bahwa hampir setiap hari terdapat setidaknya satu tata surya hilang. Bahkan sering kali dua atau tiga tata surya yang musnah karena aus. Sebagaimana hukum keseimbangan, ketika ada yang hilang, maka ada juga yang baru. Hilang dan munculnya tata surya baru itu jauh berada di bagian alam semesta yang itu tidak pernah terbayangkan sedikitpun oleh manusia. Tempatnya teramat sangat jauh. Adanya kondisi seperti itu di dalam sistem tata surya lain, maka bukan mustahil suatu saat system tata surya kita ini juga akan musnah. Kalaupun system tata surya kita ini hilang, maka dampaknya teramat sangat kecil sekali, bahkan nyaris tidak berdampak apapun bagi keseimbangan system alam semesta raya ini. Sebagai ibaratnya, kalaupun tata surya kita ini musnah, maka tidak akan masuk dalam berita Koran. Karena, system tata surya ini teramat sangat kecil jika dipandang dari sudut pandang keselurhan alam. Tata surya yang kita tempati ini tidak kelihatan. Bagaikan satu butir pasir di pantai. Kehilangannya tidak mengakibatkan apa-apa.
Oleh karena itu, yang terpenting bagi kita adalah kesadaran bahwa alam ini memang bisa rusak dan musnah, dan itu tidak perlu kita risaukan. Karena Tuhan dengan segala kemaha kuasaanNya tentu telah mempunyai agenda sendiri tentang kita manusia, alam, kelangsungan, kehancuran, penyelamatan, dan sebagainya. Berdasar kesadaran itu, maka kita perlu tetap bergiat untuk melakukan hal terbaik sesuai perintah Tuhan, merealisasikan kekhalifahan kita sebagai khalifah di muka bumi, agar kondisi rahmatan lil 'alamin betul-betul segera terwujud. Tak perlu kita merisaukan wilayah kuasa Tuhan. Lakukan saja apa yang diperintahkan olehNya. Itu saja sudah sangat cukup bagi kita.
Sekian, terima kasih atas perhatiannya.
Wa Allahu 'alam bi al-showab.

Selasa, 03 Agustus 2010

Penginderaanku tentang Tsunami Matahari

Penginderaanku tentang Tsunami Matahari


Baru-baru ini NASA mengatakan adanya Tsunami Matahari yang dampaknya bisa mencapai bumi. Atas dasar itu, maka kami melakukan penginderaan apa sebenarnya yang dimaksud dengan Tsunami Matahari tersebut. Guna menjawab pertanyaan itu, maka kami melakukan penginderaan tentang fenomena yang ada di Matahari. Berikut ini hasil penginderaanku.
Pada saat ini, kondisi hidrogen yang ada di inti matahari mengalami fusi secara besar-besaran. Fusi ini terjadi karena perputaran mtahari yang berlangsung selama ini. Inti matahari menjadi lebih panas dari dasawarsa lalu. Kalau selama ini kita merasakan hawa yang terasa lebih panas dari dasawarsa yang lalu, ini memang merupakan salah satu dampak dari panas yang dirambatkan oleh sinar matahari.
Akibat dari adanya fusi hidrogen di inti matahari ini, maka gas yang menyelimuti matahari yang terdiri bermacam-macam unsur (seperti argon, dan lain sebagainya) menjadi tersedot ke inti matahari. Ketersedotannya ini merupakan bentuk keseimbangan yang dapat dijelaskan seperti cara kerja hukum bejana berhubungan. Namun, ketika kandungan gas itu semakin banyak tersedot ke inti matahari, maka matahari melakukan penyesuaian dengan mengeluarkan lidah api. Kondisi ini sebenarnya sudah bermula dari lama.
Setiap lidah api matahari dijilatkan, maka pengaruhnya adalah timbulnya gelombang panas yang dapat mengganggu magnet alam, termasuk magnet bumi. Tentu saja, planet terdekat matahari, seperti Merkurius dan Venus benar-benar seperti terbakar. Kondisi keterbakaran Merkurius bisa mencapai hampir seluruhnya. Venus mencapai kurang lebih 50%, dan bumi mengalami sebesar 10%. Ketika tsunami Matahari melanda bumi, maka terjadi peningkatan rambatan panas sehingga suhu meningkat sekitar 1-2 derajat.
Ketika nanti Tsunami Matahari menjangkau bumi, selain peningkatan suhu udara, rambatan panas itu akan mengganggu medan magnet bumi, dan sistem magnet buatan maupun sistim kelistrikan yang dibuat manusia juga akan terganggu. Bisa jadi mengakibatkan kematian total listrik untuk beberapa saat. Dampak dari Tsunami Matahari ini lebih kuat dibanding dengan dampak juluran lidah api. Kalau juluran lidah api hanya berdampak mengganggu medan magnet sesaat, seperti terganggunya gelombang komunikasi yang dipancarkan oleh saluran-saluran pemancar. Gelombang terganggu dan kemudian blank. Dampak jilatan lidah api ini sudah sering terjadi dan kita alami bersama. Namun, dampak Tsunami Matahari ini belum terasa. Kalau nanti benar terjadi, sistim kelistrikan bisa mati total pada medan magnet yang terganggu itu, yang luasnya sekitar 10% dari total bumi yang teraliri listrik.
Dampak terburuk dari Tsunami Matahari adalah jika sampai kulit terluar matahari terkelupas dan terlempar. Sedikit saja itu mengenai bumi, maka bisa menghancurkan sebagian besar bumi. Meskipun ini bisa terjadi, namun kita harapkan ini tidak akan terjadi.
Gambaran kondisi Matahari sekarang ini sama dengan ketika panasnya suhu inti bumi meningkat, yang menyebabkan tekanan magma meningkat, sehingga gunung-gunung juga siap meledak. Begitulah gambaran perimbangannya.
Oleh karena itu, marilah kita tata dan kuatkan iman kita kepada Allah SWT, semoga kita termasuk orang-orang yang dirahmati Nya.
Wallohu ’alam bish sowab.

Minggu, 11 Juli 2010

Gus Dur dan Al-Palembani

Gus Dur dan Al-Palembani
Buku Pak Dr. Alwi Shihab yang berjudul Islam Sufistik mencatat ada dua nama Al-Palembani yang terkenal, yaitu Syaikh Abdul Shomad Al-Palembani dan Syaikh Syihabuddin Al-Palembani. Dua-duanya adalah tokoh tasawuf Sunni yang menggantikan posisi Al-Raniri dalam pergelutan pemikiran melawan pengikut Hamzah Fansuri. Al-Palembani yang ditemui Gus Dur adalah yang Abdul Shomad. Beliau ini keturunan Arab Yaman. Ayahnya, Syaikh 'Abd Al-Jalil ibn Syaikh 'Abd Al-Wahhab Al-Mahdani yang berhijrah ke Palembang pada penghujung abad ke-17 M. Abdul Shomad Al-Palembani ini yang menerjemahkan dua karya Al-Ghazali: Bidayah Al-Hidayah dan Lubab Ihya 'Ulum Al-Din. Berikut ungkapan Gus Dur tentang Al-Palembani:
Gus yang anda temui Al-Palembani itu siapa Gus? Syaikh Abdul Shomad apa Syaikh Syihabuddin. Keduanya kan mempunyai nama belakang Al-Palembani?
Abdul shomad.
Anda yang menemui apa dia yang menemui?
Saya yang menemui
Apa yang menarik bagi anda Al-Palembani ini?

selanjutnya....