Kami sedang menunggu buku ketujuh kami tentang "Mbah Mutamakin"

Jumat, 29 Mei 2009

Syeh Siti Jenar dan Peran Politiknya

Masa muda Syeh Siti Jenar dialaminya di Cirebon, karena beliau dilahirkan di daerah itu. Ketika masa remajanya berlalu, maka ia pun mengembara mencari pemahaman ilmu agama hingga ke Demak. Pada saat itu, keraton Demak Bintoro dipimpin oleh rajanya yang bernaama Pati Unus. Sueh Siti Jenar berjumpa para wali yang mengajari ilmu agama kepadanya, yang kemudian memberikan kesempatan kepadanya untuk mengajarkan apa yang dipahaminya itu kepada santri-santri muda di Demak. Wali-wali yang menjadi guru Syeh Siti Jenar itu adalah Syeh Maulana Maghribi dan Syeh Maulan Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Dalam perjalanan meniti ilmu agama itu, beliaupun bertemu dengan Sunan Bonang, namun hanya sebentar saja.

Pergaulannya Syeh Siti Jenar di Demak termasuk sangat luas. Ia akrab dengan para wali, para petinggi pemerintahan Demak (bahkan rajanya sendiri sangat akrab dengan beliau), juga para pedagang yang berasal dari negeri semenanjung Arab, seperti Persia, Yaman, juga para pedagang Gujarat, dan sebagainya. Pergaulan yang luas ini semakin meningkatkan pengetahuannya karena banyaknya informasi yang dicerap dari pergaulannya itu. Informasi yang sangat menarik perhatiannya adalah ceritera tentang kearifan sufistik dan juga kelebihan-kelebihan atau karomah-karomah yang berkaitan dengan para sufi. Ketertarikannya itu membawanya menyeberang hingga ke Bagdad, melalui Demak.

Syeh Siti Jenar berangkat ke Bagdad sendirian melalui Demak. Jalur itu dipilihnya karena Demak ketika itu memiliki pelabuhan besar yang menghubungkan jalur-jalur internasional. Selain itu, memang beliau saat itu berada dan tinggal di Demak. Sesampainya di Bagdad, Syeh Siti Jenar justru tidak mempelajari praktek tarekat, namun menyibukkan diri mempelajari pustaka-pustaka keagamaan yang tersedia di perpustakaan kota Bagdad yang berjumlah sangat banyak dan tertata rapi. Ia bahkan sempat membaca mushab asli al-Qur'an yang di simpanh di perpustakaan itu. Tulisan-tulisan al-Halaj juga dipelajari, begitu pula tulisan dari Syeh Abdul Qodir Jailani.

Meskipun ia telah mempelajari ilmu-ilmu yang ada pada berbagai literatur itu, namun ia tidak tertarik mengembangkan sesuai dengan literatur itu. Alasannya adalah, ajaran seperti al Halaj, misalnya, tidak sesuai dengan kultur Jawa yang telah dikenalnya. ajaran al-Halaj menurutnya terlalu keras, dan itu tidak baik bagi masyarakat Jawa. Akhirnya ia meramu sendiri sesuai dengan pemikiran dan pemahamannya, menjadi ajaran sendiri yang disesuaikan dengan kultur Jawa. Ajaran ini dikemasnya dalam tafsir al Ikhlas, yang dikembangkan melalui dakwahnya, yang intinya adalah ketauhidan. Ketauhidan yang diajarkan menenkankan pada penyatuan antara pengetahuan dan tindakan, tidak hanya sebatas pemahaman belaka. Pencapaian puncak pendakian ketauhidan inilah yang dituju, yang dinamainya dengan sebutan manunggaling kawulo gusti.

Dalam proses pengajaran ajarannya itu, Syeh Siti Jenar akhirnya berbenturan dengan para wali, yang tidak sepakat dengan cara-cara penyampaiannya. Para wali umumnya memaklumi inti ajarannya, hanya saja tidak setuju dengan cara penyampaiannya yang secara vulgar dan menggeneralisir, tanpa memandang kesiapan mental dan pemahaman dari anak didiknya. Para wali lebvih menginginkan agar Syeh Siti Jenar menyebarkan ilmu itu secara khusus dengan memperhitungkan kadar pengetahuan dan keimanannya agar tidak dicerna mentah dan kemudian menyesatkan. Pendapat para wali ini tidak disepahami. Syeh Siti Jenar kukuh pada pendapatnya bahwa semua orang berhak mendapat pengajaran yang sama, baik materi maupun caranya. Karena pengetahuan itu adalah hak siapa saja.

Keteguhan Syeh Siti Jenar ini kemudian mendapat serangan yang sama dari kaum pendatang dari Yaman, yang ketika itu selain berdagang juga menyebarklan agama Islam. Orang-orang dari Yaman pada waktu itu bersikeras untuk melakukan pemurnian Islam seperti apa yang terjadi di negerinya sana. Upaya pemurnian ini dilakukan secara gebyah uyah tanpa memperhatikan kondisi sosial dan budaya setempat. Akhirnya, orang-orang Yaman ini selain berbenturan dengan Syeh Siti Jenar, juga berbenturan dengan para wali dan para petinggi kerajaan Demak Bintoro, yang secara perlahan dan sabar menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya. Benturan-benturan ini sempat menimbulkan terhentinya perputaran roda perekonomian, karena orang Yaman, yang ketika itu memonopoli jalur perdagangan internasional, melakukan embargo ekonomi. Namun demikian, ketika itu, Trenggono, seorang raja baru di negeri Demak mengambil kebijaksanaan dengan cepat dan tepat, sehingga perputaran roda perekonomian berjalan kembali, dan akibat politiknya itu, orang-orang Yaman yang beraliran keras meninggalkan Demak, kembali ke Malaka dan Gujarat, bahkan kampung halamannnya. Meskipun tidak didahului dengan peperangan.

(kisahnya akan bersambung.....selamat membaca....)

Selasa, 10 Maret 2009

JALASUTERA

Jalasutera, adalah nama yang diberikan oleh Sunan Kalijaga kepada jaringan ulama yang dibentuknya, dalam rangka menyukseskan misi pembangunan Benteng Peradaban dan Benteng Kedaulatan, ketika eksistensi Demak Bintoro mulai terancam oleh sepak terjang Portugis di Malaka.

Jalasutera atau Jaringan Ulama lintas selatan Pulau Jawa ini dibentuk setelah Sunan Kalijaga terinspirasi jaring laba-laba. Ulama-ulama yang menjadi anggota jaringan ini, pada awalnya hanya terbatas pada ulama-ulama yang bergelar Sunan ataupun Kiageng, yang cukup ternama, berada di jalur lintasan Demak hingga Hutan Mentaok, ditambah dengan politikus-politikus Kerajaan Demak Bintoro, khususnya yang ada di Kadipaten Pajang. Beberapa nama yang termasuk dalam Jalasutera pada tahap awal, antara lain: Sunan Bayat, Sunan Panggung, Ki Ageng Jejer, Sunan Geseng, Bupati Brang Wetan, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Giring. Pada tahap berikutnya menyusul nama-nama seperti: Ki Ageng Majasto, Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Lengking, Ki Ageng Selo, dan sebagainya.

Jaring Jalasutera ini diaktifkan pada tahun 1569, ketika Sunan Kalijaga melakukan ekspedisi rahasia, untuk mencari lokasi yang cocok untuk pendirian Benteng Peradaban dan Benteng Kedaulatan. Ekspedisi ke Selatan ini, ke Hutan Mentaok, merupakan salah satu dari tiga ekspedisi rahasia lainnya, yaitu ke Cirebon, dan Ke Tuban. Misi ini disebut misi rahasia, karena ini merupakan kebijakan Keraton Demak Bintoro, dengan raja Sultan Trenggono, yang hendak menyiasati atau mengamankan peradaban Islam yang masih tergolong awal.

Untuk ekspedisi-ekspedisi berikutnya, arah bagian selatan diserahkan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai pemimpinnya, ke arah barat ditunjuklah Sunan Gunungjati, dan ke timur Sunan Prawoto, yaitu putra mahkota kerajaan Demak Bintoro, yang kelak menggantikan Sultan Trenggono setelah wafat. Ketiga misi ini masih tetap menjadi misteri atau rahasia hingga kini, bahwa keinginan Sultan Trenggono dan Sunan Kalijaga untuk membentuk embrio yang akan melahirkan keraton-keraton baru. Dari ketiga ekspedisi itu, ekspedisi ke timur telah mengalami kegagalan pada masa awal. Kegagalan ini karena, pengemban tugasnya kurang matang dalam berpolitik. Misi ke selatan berhasil diwujudkan setelah Kerajaan Pajang mengalami keruntuhan. Misi ke Barat akhirnya berhasil, bahkan meluas hingga ke Banten, setelah mampu meyakinkan dan bekerja sama dengan Pajajaran.

Jalasutera memang lebih tepat disebut sebagai jaringan ulama, hanya saja anggotanya tidak terbatas pada ulama Islam saja. Ada Ki Ageng Mangir juga menjadi anggota jaringan itu. Demikian pula Ki Surodipo dan Ki Tejokusumo, mereka kakak beradik dan warga desa di dekat candi Payak di dekat Kaliopak, juga menjadi jaringan Jalasutera ini. Bahkan di tempat tinggal Ki Surodipo dan Ki Tejokusumo ini, kemudian didirikan posko dan tempat penginapan yang diperuntukkan bagi rombongan ekspedisi dari Demak Bintoro pada ekspedisi-ekspedisi berikutnya. Di sekitar lokasi posko penginapan itu diberi nama oleh Sunan Kalijaga dengan sebutan Desa Bintaran. Kedua kakak beradik tadi bertugas sebagai pelayan sekaligus penyuplai bahan-bahan kebutuhan untuk rombongan dari Demak Bintoro yang datang ke Bintaran. Kedua orang ini lebih dikenal sebagai penjaga tamu atau Ki Jogo Tamu.

Di dekat Bintaran juga ada desa yang mendapat perhatian penuh, yaitu Desa Yosoharjo. Desa ini letaknya sebelah barat Bintaran setelah menyeberang Kaliopak. Desa ini ketika itu bermasyarakat Hindu. Meskipun para rombongan sudah beragama Islam, namun hubungan dengan orang-orang di Yosoharjo berlangsung damai, tanpa menyinggung masalah-masalah kepercayaan. Desa ini, sekarang ini berada di Banguntapan. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dan anggota rombongannya adalah melalui pendekatan budaya. Cara ini yang dilakukan juga kepada Ki Ageng Mangir yang merupakan penganut Kejawen atau Kapitayan.

Markas Jalasutera sendiri berpindah-pindah. Tempat yang paling lama sebagai markas Jalasutera adalah di Bayat. Kemudian, berpindah juga ke Gunung Panggung Piyungan. Di Gunung Panggung ini, Sunan Panggung mengajarkan Islam kepada masyarakat. Bahkan putera dari Panembahan Senopati, yaitu Raden Ronggo dan Raden Songgoriti (Raden Mas Jolang), juga belajar mengaji di pondok pesantren Sunan Panggung. Selain Sunan Panggung, di gunung Panggung ada juga ulama yang membantu Sunan Panggung, yaitu Sunan Geseng. Di sebut Sunan Geseng, karena kulitnya berwarna hitam gelap, karena beliau berasal dari Ethiopia. Beliau putera dari Khaleef, seorang pedagang yang juga murid dari Sunan Gresik. Sedangkan Sunan Panggung sendiri adalah orang asli Grobogan, murid Sunan Kalijaga. Putera dari Sunan Panggung ini yang dikenal dengan Sunan Grobogan.

Jumat, 30 Januari 2009

PENGUMUMAN

IKUTI...BEDAH BUKU "BERJUMPA 26 NABI-PENGALAMAN SPIRITUAL SEORANG REMAJA" karya ARGAWI KANDITO (SYEH PANDRIK), Sabtu, 31 Januari 2009, jam 19.00 Wib. di Gedung GRAHA WISATA, Jl. Selamet Riyadi, SOLO.

Minggu, 18 Januari 2009

Misteri di Bawah Masjid Al Aqsa

Semalam saya ditelepon oleh Kyai Jadul Maula. Beliau menanyakan ada misteri apa di bawah Masjid Al Aqsa. Kyai bilang, konon...Israel menginginkan menguasai Masjid tersebut, dengan harapan dapat melacak makam Nabi Ishak, yang konon berada di bawah masjid tersebut..begitu info yang diperolehnya. Berdasar info itu, aku ingin menceriterakan hasil penginderaanku yang telah aku lakukan beberapa waktu yang lalu...
Di bawah Masjid Al Aqsa itu, tidak terdapat makam nabi Ishak. Sesuatu yang penting yang ada di bawah masjid tersebut adalah adanya sumber air yang mempunyai kandungan mineral yang tinggi. Pusat sumber itu persis di tengah pusat masjid. Ukuran yang pas akan didapat kalau mengukurnya menggunakan konstruksi awal pembangunan masjid. Awal pembangunan masjid, konstruknya berupa bentuk cekungan setengah lingkaran, kira-kira berdiameter 6 meter. Di luar lingkaran itu ada pilar-pilar kokoh, tanpa atap. Tentu saja konstruk itu berbeda dengan kondisi saat ini.
Menurut saya, sumber itu tidak perlu dicari lagi, karena sumber utama itu telah terintegrasi dengan sumber air sumur yang digunakan saat ini.
Bangunan itu digunakan oleh Nabi Ruth untuk meredakan ketegangan yang terjadi pada mayarakat di Yerusalem, yang bersumber dari perbedaan antara mengikuti sabath atau meninggalkannya. Mesjid itu sangat bersejarah bagi penyatuan umat manusia. Tidak pada tempatnya mengusir kaum yang beribadah di sana, dan berniat menguasainya untuk tempat ibadah kaumnya sendiri.
wallohu'alam bish showab

Selasa, 06 Januari 2009

Akar Masalah Konflik Israel-Palestina: Keterangan Nabi Ruth

Terus terang aku sedih melihat perang Israel-Palestina berlangsung terus-menerus dan memakan korban yang banyak. Tangisan, lumuran darah, suara bedil, yel-yel dukungan, semuanya memilukan. Hatiku bertanya-tanya...mengapa mereka mesti berperang?
Dari negeriku dukungan banyak membantu Palestina dan mengutuk Israel. Bahkan hingga berlebih-lebihan menurutku, orang usaha di tanah air sendiri diporak-porandakan karena dianggap sebagai agen Zionis. Masyaallah......
Hatiku bertanya-tanya, sebenarnya siapa sih biang keroknya? Palestina ataukah Israel? Untuk menjawab itu, maka aku mengabaikan berita yang beredar sekarang ini, dan lebih memilih bertanya dengan nara sumber yang menurutku lebih obyektive, yaitu Nabi Ruth. Interview ini melalui pendekatan spiritual seperti biasa aku lakukan. Berikut petikannya:

Nabi, aku tahu namamu dari kitab Injil. Itupun aku awalnya dikasih tahu oleh kawan bahwa ada nabi Israel yang bernama Ruth. Nama ini diperdebatkan jenis kelaminnya. Banyak yang berpendapat bahwa inilah satu-satunya nabi perempuan. Aku ingin mengkonfirmasi denganmu langsung agar bisa memberikan informasi juga kepada kawan-kawan. Nabi, tolong ceriterakan jati dirimu.

Baiklah. Aku itu lelaki Israel keturunan Musa dan Harun. Aku keturunan ketigabelas. Perlu kamu ingat, umur manusia ketika itu panjang-panjang. Banyak yang sudah berusia tua baru punya anak. Ada yang sudah berumur delapan puluhan, atau bahkan ratusan. Maka jarakku dengan Nabi Musa dan Harun waktunya panjang. Aku hidup pada tahun 1346 SM. Ayahku bernama Lucas, dan Ibuku bernama Maria. Aku punya anak satu laki-laki yang aku beri nama Hiel. Dia juga seorang nabi, tinggalnya di daerah Mesir.

Nabi, engkau kan orang Israel, bagaimana perasaanmu melihat konflik Israel-palestina sekarang ini? apakah engkau tidak risau?

Bukan hanya aku, umumnya para nabi saat ini sudah enggan menggagas apa yang terjadi di Palestina dan Israel. Karena perang itu sudah berlangsung sangat lama. Kedua kaum itu tidak niat untuk berdamai. Hatinya sudah membatu dan matanya sudah dibutakan, sehingga tidak melihat dan merasakan kejadian-kejadian kekerasan yang merusak dan mengorbankan. Perang ini dapat dikatakan sebagai perang buta. Kedua-duanya buta. Mereka tidak mau menerima informasi-informasi dari para nabi lagi. Hatinya tidak disiapkan untuk menerima. Maka, saat ini tidak ada orang yang cocok untuk diamanahi sebagai penengah konflik agar segera reda. Hatinya disulut amarah yang berlebihan.

Apa tidak ada sama sekali orang yang bisa diamanahi yaa nabi..kan orangnya banyak?

Di daerah Palestina itu ada orang yang tergolong suci. Ia keturunan Ibrani. Ia sekarang seorang biarawan. Ia akrab dengan Israel. Orang ini pun masih belum memenuhi syarat untuk dijadikan penengah. Tetapi kelak akan ada orang yang datang sebagai penengah.

Sebenarnya akar permasalah konflik Israel-Palestina ini apa?

Sejak jaman Musa konflik ini sudah ada. Awalnya adalah perdebatan antara pengikut Musa tentang Sabath. Sebagian ada yang tetap memelihara Sabath dan sebagian menolak Sabath. Konflik itu sudah mulai ketika Musa masih hidup. Ketika Musa meninggal, perdebatan ini menjadi meluas hingga menjadi pertikaian. Pihak yang memelihara Sabath masih berada dijalur ajaran Musa, tetapi kelompok yang menolak Sabath kemudian menjadi pemuja pagan. Itulah akar masalahnya, yang kemudian berlangsung terus menerus dan mengembang hingga seperti yang terjadi saat ini. Masuknya Islam ke Palestina semakin menambah ruwet suasana konflik. Karena, pemeluk Islam di Palestina tidak mau mengakui Yahudi sebagai saudaranya. Padahal, kalau dilihat dari jalur keturunannya, mereka ini sama-sama keturunan Ibrani. Orang Palestina itu sebenarnya saudara Israel dan Yahudi. Pihak Palestina itu adalah keturunan dari orang-orang yang memelihara Sabath yang saya ceritakan di atas. Pihak yang menjadi pagan inilah orang-orang Israel.
Saat nabi-nabi Israel yang namanya tertera di Kitab Perjanjian Lama itu masih hidup, konflik dapat dikendalikan. Pada kurun waktu itu konflik menghilang. Masyarakat rukun, meskipun potensi konflik masih ada. Konflik itu mulai muncul lagi pada zaman Nabi Zakaria. Konflik ini masih kecil, dan kemudian membeesar pada zaman kenabian Isa.
Pemicu konflik pada saat Isa adalah perebutan atau klaim atas keberhakan memiliki Isa. Orang yahudi mengatakan bahwa Isa adalah keturunan mereka. Demikian pula kaum Ibrani, juga mengklaim menurunkan Isa. Kedua kaum itu kemudian berebut untuk memiliki Isa. Alasan Yahudi adalah karena Isa itu lahir di bethlehem, kota yang dihuni oleh orang Yahudi.

Sebenarnya Isa sendiri keturunan kaum mana?

Perlu kamu ketahui, Imran dan Zakaria itu keturunan Ibrani. Sedangkan Maria dari jalur ibunya itu berdarah Yahudi. Adanya klaim kepemilikan atas Isa itu, maka antara Yahudi dan Ibrani menjadi tidak pernah akur, senantiasa bertentangan.

Nabi, apa kaitan antara Israel, Ibrani, dan Yahudi itu?

Mereka itu sebenarnya saudara. Ibrani itu nenek moyang Israel dan Yahudi. Pada waktu itu, yang mempunyai tanah yang sekarang menjadi negara Israel itu adalah Yahudi. Israel itu kaum pendatang yang tinggal di sana. Kedua kaum itu, Israel dan Yahudi, banyak melakukan kawin silang, sehingga antara Yahudi dan Israel kemudian sulit untuk diidentifikasi. Orang-orang Palestina sendiri awalnya adalah kelompok orang Ibrani pengikut setia Musa yang memilih untuk menempati daerahnya sendiri, di daerah Palestina sekarang ini. Kehidupan kaum Palestina ini saat itu sangat damai. Mereka dapat beribadah dengan baik, dan aman. Orang-orang Palestina ini kemudian berkembang biak dan menyebar hingga ke daerah Arab, yang kemudian menurunkan suku-suku di Arab. Oleh karena itu kaum Palestina lebih merasa dekat dengan kaum Arab. Peradabannya lebih membaur dengan Arab dibanding dengan Israel. Demikian pula dalam menerima ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.

Terus...bagaimana kok akhirnya Palestina yang menjadi konflik dengan Israel?

Ketika Islam mulai diterima masyarakat, ajaran ini mulai menyebar luas ke negeri-negeri di luar Arab, bahkan hingga yang berjarak sangat jauh dari Arab sendiri. Islam menyebar hingga ke Spanyol, Cordoba, Perancis, Irak, Iran, Negeri-negeri Balkan, Turki, Hindia dan sebagainya. Saat penyebaran ke arah Turki dan negeri-negeri Balkan itu, sebagai wilayah antara penyebaran adalah Palestina. Karena Islam sangat kuat, maka kaum Palestina kemudian meluaskan daerah tempat tinggalnya. Ketika Palestina meluaskan daerahnya ini, kaum Israel dan Yahudi tidak setuju, karena merasa daerahnya teraneksasi. Oleh karena itu Israel kemudian melawan Palestina. Di sini konflik menjadi semakin ruwet. Konflik ini merupakan babak baru yang hingga memunculkan konflik belakangan ini.

Nabi, pada jamanmu sendiri masyarakat kan tidak ada konflik, mereka akur. Apa kiat yang nabi pakai saat itu?

Saat itu kami mengajari masyarakat untuk kembali kepada Taurat. Ada hal yang menurut saya sangat menunjang terjadinya perdamaian, yaitu diberitakannya kepada masyarakat tentang akan hadirnya Injil. Karena memang Taurat mengatakan demikian. Semakin masyarakat mengetahui apa yang tertuang di dalam Taurat ini masyarakat sepertinya antusias menunggu kedatangan Injil dan nabi barunya. Ada harapan dan antusiasme.

Apakah model itu bisa diterapkan untuk meredakan konflik saat ini?

Mungkin bisa, tetapi kan ada perbedaannya...Taurat dulu menjanjikan akan ada nabi baru dengan kitab baru..tetapi di Al Qur'an kan tidak ada menyebutkan hal itu...Maka, ya modelnya harus tidak sama dengan dulu. Kalau menyuarakan nilai-nilai ajaran Al Qur'an mungkin bisa..tetapi jangan dijanjikan ada nabi baru lho....Konflik Palestina-Israel ini akan bisa kemali aman nanti setelah munculnya figur baru yang bisa menjadi penengah.

Dulu kan ada Yasser Arafat, bahkan beliau sudah mendapat Nobel Perdamaian...

Tetapi bukan dia yang saya maksud. Penengah itu bukan Yaser Arafat. Nanti akan ada orang yang mumpuni untuk menjadi penengah. Orang ini sangat bijaksana, dipercaya oleh kaum Palestina juga oleh Kaum Israel. Ketika nanti orang ini sudah melakukan tugasnya, kedamaian dapat terjadi. Orang Israel dapat bebas masuk dan aman memasuki Palestina. demikian pula orang Palestina bebas memasuki Israel. Itulah saat kedamaian.

Apakah yang anda maksud itu diturunkannya kembali Isa ke bumi, atau datangnya Imam Mahdi?

Aku tidak mau bicara tentang itu. Bukan kapasitasku. Lagi pula tentang yang kamu sebut itu adalah rahasia Tuhan.

Oh ya... Nabi, selain engkau sejaman dengan Nabi Hiel, apakah engkau juga mengenal nabi-nabi lain?

Aku sejaman juga dengan Nabi Amos, Daniel, Elia, Maleakhi, hanya saja tempat tinggalnya sangat berjauhan. Kami tidak pernah saling bertemu secara fisik. Tetapi kami sering melakukan konverensi membahas tentang kehidupan masyarakat dan ajaran dari Tuhan. Kami melakukannya dengan cara telepati. Saat itu, nabi-nabi bisa melakukan teknik itu.

Baik. Terima kasih nabi, semoga info ini bermanfaat

Oh ya...sama-sama. Pesanku, tetaplah berada di jalur Tuhan. Ciptakanlah Kedamaian. Jadilah orang yang bermanfaat bagi seluruh alam. Sampaikan salamku kepada kawan-kawanmu.

Itulah tadi perjumpaanku dengan Nabi Ruth. nabi Israel yang namanya ada di dalam Kitab Perjanjian Lama.

Wallohu'alam bish showab.

Sabtu, 27 Desember 2008

Pesan Nabi Muhammad di Tahun Baru Hijrah


Hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa penting yang senantiasa dikenang oleh umat Muslim. Peristiwa itu hingga kini dijadikan tonggak penetapan penanggalan umat Islam. Di balik peristiwa itu, tentunya ada pelajaran yang dapat dipetik dan dipelajari untuk diterapkan dalam kehidupan sekarang ini. Selain dalam urusan sejarah, tata kemasyarakatan, ukhuwah, strategi, dan sebagainya dapat kita teladani dari peristiwa itu.
Melanjutkan dialog-dialog sebelumnya yang telah aku lakukan dengan Nabi Muhammad, berikut aku cuplikkan dialog tentang Hijrah tersebut.

Nabi, apa alasan di balik peristiwa hijrah Nabi dari Mekkah ke Medinah?

Mekkah kala itu kurang kondusif untuk mengembangkan ajaran Islam. Masyarakatnya terlalu acuh dan daya serap tentang kebenaran Islam rendah. Padahal Islam ini tuntunan agung bersumber langsung dari Tuhan yang harus aku sampaikan kepada umat manusia. Untuk menghindari hambatan itu, maka aku berfikir alangkah baiknya jika pindah saja dari Mekkah. Tujuannya adalah agar Islam segera menyebar. Maka kami, aku dan sahabat-sahabatku, memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Sebenarnya selain Madinah, ada beberapa tempat yang menjadi pilihan, yaitu Yaman dan Ethiopia. Pada waktu itu pengikut-pengikutku sudah ada di dua daerah itu. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, seperti jaraknya, anggaran yang digunakan untuk hijrah, jumlah orang yang ikut hijrah dan sebagainya, akhirnya ditetapkan Madinah sebagai tempat tujuan.

Nabi, apakah hijrah itu merupakan perintah Tuhan atau hanya keinginan nabi sendiri?

Hijrah itu keinginanku sendiri. Alasannya ya karena tadi...Mekkah kurang kondusif...Namun, keiginan itu aku konsultasikan juga dengan Allah SWT. Caranya, kalau menggunakan istilahmu, adalah dengan maneges.

Apakah Isra' Mi'raj juga seperti itu?

Tidak. Antara Hijrah dan Isra' Mi'raj itu berbeda. Kalau hijrah itu atas dasar keinginanku sendiri, tetapi kalau Isra' Mi'raj itu merupakan suatu ketetapan Tuhan yang wajib aku jalani. Isra' Mi'raj itu rangkaian dari wahyu kenabian.

Nabi, dalam riwayat hijrah engkau katanya dikejar oleh penentangmu dan kemudian masuk sebuah gua kemudian ditutupi oleh laba-laba, bagaimana sebenarnya ceritanya?

Hijrah ini sebenarnya telah direncanakan semenjak tiga bulan sebelumnya. Para sahabat-sahabat sudah sering berkumpul membahas teknis pelaksanaan hijrah tersebut, mulai dari pemilihan tempat, rombongan yang ikut, pengumpulan anggaran, hingga logistik yang dibawa, serta rute yang dilalui. Juga dibahas tentang siapa yang perlu tinggal di Mekkah untuk membina masyarakat Mekkah yang ditinggalkan. Rencana itu sepertinya telah diketahui oleh penentang-penentangku, maka mereka mencoba menggagalkan.
Hijrah kami mulai pada malam hari, kala itu aku berdua dengan Abu Bakar, mengawalinya. Kira-kira kami berangkat jam 10 malam. Ali kami tugasi untuk menjaga rumah dan membina Mekkah. Dalam perjalanan itu kami menggunakan unta. Saat pagi telah tiba, kami merasa ada ketidaknyamanan dalam perjalanan. Perasaanku mengatakan bahwa ada yang hendak menghadang kami. Maka, kami pun beristirahat di pegunungan yang berbatuan. Di sekitar bebatuan itu ada semacam gua kecil, yang berupa sela batu yang tertutup sebagian dengan batu lainnya. Cukup untuk menyembunyikan diri. Unta kami taruh di balik lindungan bebatuan di sekitar itu. Dari kejauhan kami melihat ada rombongan orang-orang yang mencari kami. Kemudian kami putuskan untuk berlindung dalam gua tersebut. Saat itu sudah ada laba-laba yang memulai memintal jaringnya, tetapi masih ada sela yang cukup untuk menyusup masuk. Di mulut gua itu ada batu yang di atasnya juga ada burung merpati yang sedang bersarang. Setelah kami masuk gua itu, tiga jam kemudian orang-orang itu sampai ke tempat kami. Tetapi mereka tidak melihat kami. Aku mendengar pembicaraan mereka, bahwa tidak mungkin orang masuk ke dalam gua itu karena mulut gua itu sudah tertutup oleh jaring laba-laba. Lagi pula, ada burung yang bersarang di mulut gua itu. Rombongan itu kemudian menjauhi kami. Setelah rombongan itu jauh, kami baru keluar dari gua itu dan melanjukan perjalanan menuju Madinah.

Apakah nabi sebelumnya sudah pernah ke gua itu?

Belum pernah. Kami tiba di sana yang baru sekali itu. Itu juga bukan tempat tujuan. Hanya karena saat itu sampai sana dan merasa ada halangan, maka kami berlindung. Tempat berlindung yang aman menurut kami ya hanya tempat itu, maka kami berlindn di sana. Aku juga tidak mengetahui nama tempat itu. Di sekitar gua itu ada tumbuh pohon yang lumayan besar, masyarakat Arab menyebutnya sebagai pohon Tsur. Maka gua itu kemudian dikenal dengan gua Tsur.

Nabi, apakah ada alasan lain kenapa memilih Madinah?

Selain alasan di atas, ada beberapa yang menjadi pertimbangan, antara lain: Banyak sahabat-sahabat kami yang tinggal di Madinah. Mereka telah mengetahui rencana kedatangan kami. Umumnya mereka awalnya berdagang di daerah itu, kemudian menetap. Rombongan-rombongan pedagang ini yang menceriterakan di Madinah. Paman-paman kami juga sudah banyak yang tinggal di sana. Selain karena jaraknya dekat, alasan-alasan itu merupakan alasan yang kuat.

Nabi, dalam riwayat diceritakan bahwa ketika Nabi sudah sampai di Madinah banyak orang yang menawarkan kepada Nabi agar tinggal di rumah mereka. Karena tawarannya begitu banyak, sehingga nabi susah untuk memutuskan, kemudian nabi bilang bahwa terserah untanya nanti berhenti di mana, di situlah kami akan singgah. Betulkah begitu yaa Nabi?

Bukan begitu. Kalau begitu itu namanya syirik. Masak kita sebagai manusia menyerahkan keputusan kepada unta? Unta berhenti di depan rumah Sahal karena sengaja dihentikan. Bukan karena unta mau berhenti di situ. Orangnya yang ingin berhenti di situ. Ada beberapa pertimbangan kenapa memilih tempat itu. Pertama, alasannya tempat itu strategis, dekat pasar, dekat lapangan, dan merupakan pusat kota. Alasan kedua, rumah Sahal itu luas, sangat memungkinkan untuk mengadakan pertemuan dengan orang banyak. Antusiasme penyambutan kedatangan kami sangat tinggi. Pasti mereka menginginkan untuk dapat berjumpa dan mendengarkan cerita-cerita kami. Maka kami putuskan untuk menghentikan unta di rumah Sahal. Memang saat itu aku tidak bilang kalau aku memilih rumah Sahal. Maknailah kata-kata dengan baik, ya....

Iya nabi, maafkan aku. Di Madinah kan Nabi kemudian membangun rumah dan Masjid, kapan itu dilakukan?

Mulai dari rumah Sahal rencana itu dimatangkan. Secara bersama-sama kami membangun masjid yang kemudian dinamai Masjid Nabawi. Di samping Masjid itu pula rumahku. Pembangunan itu dimulai dua bulan sejak kedatangan kami di Madinah. Bangunan Masjid Nabawi ketika itu paling besar di Madinah. Dananya diperoleh dari sumbangan dan zakat para umat Muslim di Madinah. Tempat itu kemudian menjadi tempat syiar Islam, yang menyebabkan Islam maju hingga saat ini.

Hijrah Nabi ini kan kemudian dijadikan momen penanggalan Islam. Apakah hijrah saat itu memang bertepatan dengan tanggal 1 Muharam? Kenapa yang dipilih adalah penanggalan qomariah, bukan syamsiah?

Hijrah itu berlangsung pada akhir Dzulhijah. Setelah itu kan muncul bulan baru, Muharram. Nah, munculnya bulan baru itulah yang kemudian dijadikan momen penanggalan Islam. Waktu itu masyarakat Arab menggunakan penanggalan qomariah, maka Islam juga kemudian menggunakan kebiasaan itu.

Nabi, kiranya apa relevansi antara hijrah nabi waktu itu dengan makna masa kini, dan apa pesan nabi terkait dengan tahun baru hijriah ini?

Hijrah itu mempunyai kandungan nilai yang masih relevan hingga saat ini. Hijrah merupakan bentuk dari perjuangan penegakan kebenaran, perjuangan pemberdayaan, dan perjuangan perluasan syiar. Hijrah juga merupakan perwujudan dari perjalanan spiritual untuk menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan. Pesanku, tingkatkan keimanan untuk menghadapi persoalan-persoalan kehidupan. Pesan ini bersifat universal, baik untuk momen Tahun Baru Hijriah maupun Tahun Baru Masehi.


Wallohu'alam bish showab.

Sabtu, 13 Desember 2008

DUNIA KEILMUAN JIN

Dunia pemikiran atau dunia keilmuan dalam alam jin relatif tidak berkembang jika dibandingkan dengan dunia pemikiran yang ada di alam manusia. Pada kehidupan manusia pemikiran demikian maju. Hampir semua obyek mempunyai keilmuannya sendiri yang senantiasa berkembang. Ini disebabkan oleh karakter kecerdasan jin dan manusia yang berbeda. Manusia diberikan oleh Tuhan kecerdasan yang lebih tinggi dibanding kecerdasan jin.
Jin pada dasarnya makhluk yang tergolong kurang cerdas. Ia tidak mampu untuk berfikir banyak, sehingga tidak ada teknologi, seperti terma teknologi dalam kehidupan manusia, yang mampu dihasilkan oleh jin. Kehidupannya monoton dari semenjak jin diciptakan hingga waktu sekarang ini. Tidak ada perubahan pola kehidupan yang berarti. Maka, pantas saja jika dikatakan bahwa jin adalah makhluk yang lemah jika dibandingkan dengan manusia. Hanya saja, karakter jin yang tidak dimiliki oleh manusia, dan kebanyakan manusia ingin memiliki karakter yang dipunyai oleh jin, seperti terbang, dapat bergerak dengan sangat cepat, ini kemudian menyebabkan manusia menjadi terbalik menganggap jin lebih unggul dibanding dirinya.Jin umumnya mengakui bahwa manusia lebih hebat dibanding dirinya, maka banyak jin yang sangat senang untuk "nyuwita" kepada manusia. Jin banyak yang ingin mengabdi kepada manusia, terutama manusia-manusia yang dianggapnya mumpuni, misalnya para kiai. Para kiai ini banyak yang menjadi idola para jin, selain karena ilmu keagamaannya yang tinggi, praktik keagamaannya juga tinggi. Ditambah lagi mereka mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan jin. Jin yang berhasil nyuwita kepada orang yang menjadi idolanya ini, maka di alamnya, prestige jin akan meningkat. Ia akan menjadi jin yang lebih dihormati, karena dianggap telah mempunyai keilmuan yang lebih tinggi, pengalaman lain di luar dunianya, serta mempunyai banyak bekal untuk kelak dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Gambaran peningkatan prestige jin dapat diibaratkan dengan seorang tenaga kerja Indonesia yang telah pulang dari negara maju (misalnya: Amerika, Jepang, Eropa, Arab, dan sebagainya) yang tergolong berhasil. Ketika kembali ke kampung halamannya akan menjadi orang yang lebih terhormat, karena dianggap mempunyai pengalaman hidup di negeri lain, dipandang pengetahuannya juga meningkat, mempunyai kemampuan berbahasa negeri lain, mengalami peningkatan bekal hidup yang lebih baik, dan sebagainya, sehingga biasanya ketika pulang ke kampungnya ia mendapat sambutan yang membanggakan, dan meningkatkan kehormatannya.