Deneq Wirabangse yang dikenal di Sasak-Lombok, berasal dari Jawa Timur. Ia bernama asli Danang Wirabangsa. Kepergiannya dari Jawa Timur hingga bermukim di Lombok, terkait dengan habisnya masa kejayaan Majapahit, sehubungan dengan peralihan menjadi Kerajaan Islam Demak Bintoro.
Wirabangse ini adalah seorang politisi sisa-sisa Majapahit. Ia mengelana dengan membawa bekal sebuah kitab politik yang dia sendiri tidak tahu siapa penulisnya. Berbekal kitab itu, Wirabangse mendakwahkan dari desa ke desa, menyusuri pantai utara jawa Timur hingga ke Bali melalui pantai utara, dan terakhir di Lombok.
Perjalanan Wirabangse dimulai sejak berusia 20 tahun. Sesampai di Bali, di Perkampungan Muslim yang terletak di pantai utara Bali, ia pernah singgah, dan kemudian mempelajari Islam denganSyeh Abdurrahman. Tetapi, ilmu keislamannya belum cukup matang. Umur 23 tahun ia mengembara ke pulau Lombok. Dia menemui suatu suku yang kala itu belum ada pemerintahan. Di sana ia mendakwahkan ajaran politik yang sumber referensi utamanya dari pengalaman dia dan dari buku yang dibawanya itu. Di lombok, ia bermukim di bagian timur kota Lombok. Dia menyebutnya sebagai kotaraja. Di sana ia mempunya murid yang setia, yaitu Deneng Sumawang. Orang ini yang meneruskan ajaran dari Wirabangse.
Meskipun menyebarkan ajaran politik, Wirabangse tidak mengaplikasikan politik. Dia sendiri tidak mewujudkannya menjadi institusi politik. Terbentuknya institusi politik di Lombok jauh setelah kehadiran Wirabangse, kira-kira 50 tahun kemudian.
Wirabangse diambil menantu oleh pengusaha Jawa Timur yang tinggal di pulau Lombok itu, dinikahkan dengan puterinya yang bernama Nyai Inten. Dari perkawinannya itu mempunyai satu anak yang bernama Surabangse. Sayangnya, keluarganya ditinggalnya mati pada usia 28 tahun.
Wirabangse sangat populer di lombok ketika itu, selain dari ajaran dan perilakunya, ia bisa menyatukan berbagai suku yang tinggal di Lombok yang terdiri dari suku Timor, Sasak, Bugis, Jawa, juga Madura. Ketokohan Wirabangse juga didukung oleh ciria pakaiannya yang lain dari orang-oang lain. Ia berpakaian rapi dengan ciri warna pakaiannya yang kuning dan ungu. Lengkap seperti pakaian adat Sasak saat ini.
Buku Islam Perspektif Manjemen
6 tahun yang lalu